Nabi Muhammad s.a.w. adalah anak
Abdullah bin Abdul Muttalib. ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kedua orang
tuanya itu berasal dari suku Quraisy yang terpandang dan mulia. Nabi Muhammad
s.a.w. lahir pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah (atau, 20 April 571
Masehi). Dinamakan tahun Gajah, karena ketika beliau lahir, kota Makkah diserbu
oleh Raja Brahah dan tentaranya dari negeri Habasyah dengan menunggang gajah.
Mereka hendak menghancurkan Ka’bah karena iri hati terhadapnya. Tetapi Allah
melindungi bangunan suci itu dan seluruh penduduk Makkah, dengan menjatuhkan
batu-batu Sijjil (dari neraka) yang amat panas kepada tentara itu. Maka
binasalah mereka semuanya. Ketika Nabi Muhammad SAW masih. di dalam kandungan
ibunya, Abdullah, ayahnya, pergi ke negeri Syam (Siria) untuk berdagang.
Tetapi, sepulang dari sana, ketika sampai di kota Madinah, ia menderita sakit
dan wafat dalam usia 18 tahun. Abdullah dimakamkan di kota Madinah. Maka, Nabi
Muhammad s.a.w. dilahirkan ke dunia dalam keadaan yatim, di tengah-tengah
masyarakat jahiliyah penyembah berhala, penindas kaum lemah, perampas hak
orang, dan bahkan membunuh kaum wanita. HALIMAH AS-SA’DIYAH MENJADI IBU SUSU
NABI Sudah menjadi adat bangsa Arab ketika itu, bahwa bayi seseorang disusukan
kepada wanita lain. Begitu pula halnya Nabi Muhammad s.a.w. Beliau disusukan
kepada seorang wanita dusun bernama Halimah as-Sa’diyah. Empat tahun lamanya
beliau tinggal di dusun Bani Sa’ad bersama ibu susunya itu. Selama memelihara
Nabi Muhammad, keluarga Halimah as-Sa’diyah memperoleh limpahan rezeki dari
Allah SWT, sebagai berkah.Menjelang usia lima tahun, Halimah as-Sa’diyah
mengembalikan Nabi Muhammad s.a.w. kepada ibunya; karena telah terjadi
peristiwa atas anak asuhnya itu yang mencemaskan hatinya. Ketika di dalam
permainan bersama kawan-kawannya, Nabi Muhammad s.a.w. tiba-tiba didatangi dua
laki-laki berpakaian serba putih, membaringkannya, kemudian melakukan sesuatu
atas dada anak tersebut. Meskipun tidak sesuatu pun terjadi atas Nabi Muhammad
s.a.w. setelah peristiwa itu, namun Halimah as-Sa’diyah amat khawatir. Maka
segera ia bawa Nabi Muhammad s.a.w. kembali kepada keluarganya di Makkah. DI
BAWAH ASUHAN KAKEKNYA, ABDUL-MUTTALIB Siti Aminah amat setia terhadap suaminya.
Sering kali ia bersama anaknya pergi ke Madinah untuk berziarah ke makam
suaminya, sekaligus bersilaturrahmi kepada keluarganya, Bani Najjar, di
sana.Suatu kali, dalam perjalanan pulang dari Madinah, seusai berziarah, Siti
Aminah jatuh sakit di desa Abwa’ (antara Makkah dan Madinah). Beberapa saat
kemudian, ia wafat di sana, meninggalkan Nabi Muhammad s.a.w. yang ketika itu
barn berusia 6 tahun. Maka jadilah Nabi Muhammad s.a.w. yatim-piatu.Bersama
Ummu Aiman, pembantunya, Nabi Muhammad s.a.w. kembali ke Makkah. Beliau
kemudian dipelihara oleh kakeknya, Abdul-Muttalib, hingga menjelang 9 tahun.
DI BAWAH ASUHAN PAMANNYA, ABU THALIB Selama tiga tahun bersama kakeknya, Nabi
Muhammad s.a.w. akhirnya dipelihara oleh pamannya, Abu Thalib, karena kakeknya
itu meninggal dunia. Abu Thalib adalah seorang sesepuh kaum Quraisy yang
disegani oleh kaumnya. Meskipun demikian, dia bukanlah tergolong orang yang
kaya. Abu Thalib hanyalah seorang pedagang biasa yang wring merantau ke negeri
Syam bersama serombongan kafilah dagangnyA.Ketika berusia 12 tahun, Nabi
Muhammad s.a.w. diajak oleh pamannya itu pergi berdagang, ke Syam. Sampai di
suatu dusun perbatasan Syam, Abu Thalib bersama kemenakannya itu singgah di
rumah seorang pendeta Nasrani yang saleh, bernama Bahira. Dari kitab Taurat dan
Injil yang dipelajarinya, pendeta Bahira dapat mengetahui ciri-ciri kenabian
yang ada pads diri Nabi Muhammad yang masih kecil itu. Maka, dengan Berta-merta,
pendeta Bahira memberitahLikan hal itu kepada Abu Thalib seraya berkata: “Wahai
saudaraku, sesungguhnya anakmu ini adalah manusia pilihan Allah, calon pemimpin
umat manusia di clunia ini. Maka jagalah ia balk-balk. Bawalah ia kembali,
sebab aku khawatir ia diganggu oleh orang-orang Yahudi di negeri Syam. Bahkan,
jika sekiranya kaum Yahudi itu mengetahui bahwa ia adalah calon Rasul –Allah,
maka tentulah ia akan membunuhnya.” Maka pulanglah Abu Thalib ke Makkah
bersama Nabi Muhammad s.a.w. sebelum mereka sampai ke negeri Syam. BERDAGANG
KE NEGERI SYAM Setelah Nabi Muhammad s.a.w. berusia hampir 25 tahun, Abu Thalib
merasa bahwa kemekanannya itu telah cukup dewasa. Maka dipanggilnya Nabi
Muhammad, lalu ditawarkanlah kepadanya suatu pekerjaan yang menguntungkan,
seraya berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya kita bukanlah keluarga yang
berkecukupan. Bahkan, kurasakan akhir-akhir ini kebutuhan kita semakin sulit
didapat. Alangkah baiknya jika engkau pergi kepada Khadijah untuk meminta
izinnya membawa barang-barang dagangannya ke negeri Syam. Mudah-mudahan dari
usaha itu engkau akan beroleh keuntungan yang besar.”Nabi Muhammad s.a.w.
menyetujui usul pamannya, sebab beliau memaklumi sepenuhnya akan kesulitan yang
dihadapi pamannya itu dalam menanggung beban belanja rumah tangganya. Segera
beliau pergi kepada Siti Khadijah untuk meminta izinnya memperdagangkan
barang-barangnya. Siti Khadijah adalah seorang janda kaya di Makkah. la dikenal
sebagai wanita Quraisy yang mulia karena keturunan dan akhlaknya. la adalah
wanita budiman, gemar membantu sesamanya, dan senantiasa menjaga kehormatan
dirinya, sehingga mendapat gelar At-Thahirah (Wanita Suci). Menanggapi
permohonan Nabi Muhammad s.a.w., Siti Khadijah tanpa pikir panjang langsung
menyambutnya dengan senang hati, karena ia telah cukup mengenal Nabi Muhammad
s.a.w. sebagai pemuda yang ramah , jujur, clan sopan-santun. Maka berangkatlah
Nabi Muhammad s.a.w. ke negeri Syam, ditemani oleh Maisarah, budak Siti
Khadijah. Pulang dari Syam, Nabi Muhammad memperoleh keuntungan amat besar,
yang belum pernah dicapai oleh para pedagang lain. Siti Khadijah amat kagum
terhadap pemuda Muhammad. Lebih-lebih ketika ia mendengar sendiri dari
Maisarah, bagaimana agungnya perangai Nabi Muhammad selama di perjalanan maupun
ketika berdagang. Maka berubahlah rasakagum itu menjadi rasa cinta. PERKAWINAN
NABI MUHAMMAD DENGAN SITI KHADIJAH Hubungan perdagangan antara Nabi Muhammad
s.a.w. dengan Siti Khadiiah akhirnya diteruskan ke jenjang perkawinan.
Rupanya, Allah SWT menghendaki demikian, karena ada banyak hikmah di batik itu.
RIWAYAT HIDUP NABI MUHAMMAD SWT
Minggu, 30 Oktober 2016
PEREMPUAN HEBAT DAN TANGGUH DI SEKITAR NABI
Demikian mulianya perempuan dalam Islam, maka didalam Al-Qur’an ada
surah An-Nisa (perempuan). Tidak Cuma itu ada sekian banyak surah terkait
perempuan, seperti surah Maryam. Padahal Maryam bukan nabi atau rasul pada masa
itu. diluar itu Sayidina Umar bin Khattab memerintahkan pada perempuan supaya
belajar surah An-Nur (cahaya), sebab didalamnya terdapat pelajaran bagi
perempuan supaya terus bercahaya.Dihadapan Allah kedudukan laki² dgn perempuan sama, yg membedakan hanyalah
ketakwaan.
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik …” (Qs. An-Nahl: 97)
Perempuan mempunyai keistimewaan yg tidak dipunyai oleh kaum laki-laki. Keistimewaan itu yakni fitrah yg diberikan Allah ialah : haid, hamil, melahirkan & menyusui. Sehingga berbahagialah wahai perempuan sebab Allah sudah menciptakan kita ke bumi ini dgn keistimewaannya. Rasulullah ﷺ ketika periode hidupnya dikelilingi oleh wanita² hebat & tangguh. Bahkan dikala ajal menjemput rosulullah beliau bersama perempuan hebat & tangguh tersebut. Sebab sesungguhnya keberhasilan dakwah yg dilakukan Rasulullah ﷺ, ada peran perempuan pula didalamnya. Ada ungkapan yg menyampaikan,
“Di balik pria yg hebat, tentu ada perempuan yg hebat juga di belakangnya.”
Sayidina Umar ibn Khattab pun sempat menyampaikan,
“Laki-laki sukses itu dipandang dari dua perihal, yg pertama siapa ibunya & yg kedua siapa istrinya.”
Siapa saja perempuan hebat & tangguh yg dekat bersama Rasulullah ﷺ? Ada sekian nama perempuan yg setia dengan Rasulullah ﷺ di jalan dakwah diantaranya :
1. Aminah Binti Wahab Ibunda Rasulullah ﷺ
Dialah Aminah binti Wahab. Ibunda Rasulullah Muhammad ﷺ yg diutus Allah sbg rahmat semua alam. Layaklah baginya kemuliaan & kebanggaan yg tak akan dipungkiri, bahwa Allah Swt memilihnya sbg ibu seseorang Rasul mulia & nabi yg terakhir.seseorang perempuan berhati mulia juga sebagai pemimpin para ibu. seseorang ibu yg sudah menganugerahkan anak tunggal yg mulia pembawa risalah yg lurus & kekal. Rasul yg bijak pun pembawa hidayah.
2. Khadijah binti Khuwailid Isteri Pertama Rasulullah ﷺ
Beliau merupakan seorang janda & saudagar yg kaya raya. Beliau mempercayakan usahanya pada Rasulullah ﷺ. yakni Isteri pertama Rasulullah ﷺ. Perempuan mula-mula yg mengimani Rasulullah ﷺ dikala belum ada orang yg beriman. Satu Orang yg rela mengeluarkan semua hartanya demi menegakkan kalimat tauhid. Yg setia menemani Rasulullah diwaktu masa² susah dipermulaan dakwah. Jadi sahabat setia kala kesusahan menghampiri Rasulullah ﷺ. Dirinya pun pernah menyelimuti Rasulullah ﷺ kala Rasulullah gemetar & menggigil ketika menerima wahyu perdana yg turun melalui malaikat Jibril as. Beliau ialah Khadijah binti Khuwailid.
Khadijah binti Khuwailid, umahatul mukminin. Ibunda orang² yg beriman. Seseorang perempuan yg mempunyai ruangan special di hati Rasulullah ﷺ. Sampai² Aisyah Ra pernah cemburu padanya :
“Aku tak cemburu pada satu orang dari istri²-nya seperti saya cemburu pada Khadijah, biarpun saya tak mengenalnya. Tapi Nabi sering mengingatinya & kadang² beliau menyembelih kambing, memotong-motongnya & membagi-bagikannya pada sahabat ² Khadijah”.(HR. Al-Bukhari)
Dalam sebuah hadist Rasulullah ﷺ bersabda :
“Allah tak sempat memberiku pengganti yg lebih baik daripada Khadijah, dirinya yang beriman kepadaku saat seluruhnya ingkar. Dirinya pula yang memercayaiku disaat seluruh orang mendustakanku, beliau yg memberiku harta dikala seluruhnya orang malas memberikan & darinya Allah memberiku keturunan, sesuatu yang tak Beliau anugerahkan dari istri² ku yang lain.” (HR. Ahmad)
3. Fatimah Az-Zahra binti Muhammad ﷺ
Satu Orang putri yg lahir dari rahim perempuan paling baik yakni Khadijah ra. Satu Orang anak dari rasul Allah ialah Muhammad ﷺ. Sosok perempuan yg amat sangat zuhud dgn kenikmatan duniawi.
Dirinya pula yg menghibur Nabi diwaktu kehilangan Khadijah. Ibu dari Al-Mujtaba Hasan & asy -Syahid Husein. Dialah Fatimah Az-Zahra binti Muhammad ﷺ.
Sejak kecil dirinya turut merasakan beratnya dakwah ayahandanya Rasulullah ﷺ. Tangan kecilnya yg kecil rela membersihkan kotoran unta dari punggung Rasulullah sambil menangis. Kala muda Fatimah belia ikut merasakan kesusahan yg dialami kaum muslimin disaat pemboikotan kaum kafir. Beliau pula merasakan kekurangan makanan sehingga membuatnya sakit. Dirinya pula membersihkan darah yg mengucur dari kepala Rasulullah ﷺ kala terjadinya Perang Uhud.
Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra, pemuda yg disebut Rasulullah “Engkau bagian dariku, & saya bagian darimu” yg menikahi Fatimah. Sayidina Ali ra menikahi Fatimah mas kawinnya cuma satu buah rompi perang. Namun dirinya terus ridho dgn kehidupannya. Terbiasa bekerja sendiri, menggiling tepung hingga telapak tangannya kapalan. Memanggul air sehingga berbekas di punggungnya, membersihkan rumah sampai pakaiannya penuh debu & menyalakan tungku hingga membuat pakaiannya penuh arang.
Sempat suatu hri dia datang kepada Rasulullah utk meminta satu orang pembantu, namun malah nasihat yg beliau temukan,
“Maukah saya ajarkan terhadap kalian yg lebih baik dari apa yg kalian minta tadi? Kalau hendak tidur, bacalah takbir 34 kali, tasbih 33 kali & tahmid 33 kali. Ini lebih baik dari satu orang pembantu”, ujar Rasulullah.
Fatimah pemimpin perempuan sedunia, menerima dgn lapang hati. Masihlah bersyukur pada Allah dgn kehidupannya yg teramat sederhana.
4. Aisyah binti Abu Bakar Siddiq Ra
Siapa yg tak kenal sosoknya? Dirinya salah satu istri kesayangan Rasulullah ﷺ. Satu perihal yg jadi kecintaan Rasulullah ﷺ ialah kecerdasan & keluasan wawasannya. Kecerdasan yg yg dimilikinya, akhirnya menjadikan dirinya sebagai rujukan bermacam ilmu. Salah satunya sbg perawi hadis. Dialah Aisyah Ra binti Abu Bakar Siddiq Ra.
Aisyah ialah sosok yg menyenangkan, lantaran kecerdasannya & kelincahannya. Beliau tidak jarang mendampingi Rasulullah dikala perang. Diwaktu Rasulullah ﷺ sakit sekembalinya dari haji Wada’ & merasa bahwa ajalnya telah dekat, ia dulu berkeliling pada istri-istrinya sama seperti biasa. Pada waktu membagi jatah giliran terhadap istri-istrinya itu ia senantiasa tanya :
“Di mana aku besok?”
“Di mana aku lusa?”
Ini mengisyaratkan bahwa dia mau langsung sampai kepada hri giliran Aisyah. Istri Nabi yg lain juga mampu mendalami hal tersebut & merelakan Nabi utk tinggal di tempat istri yg mana yg dia sukai selagi sakit, maka mereka semuanya bicara : ”Ya Rasulullah ﷺ, kami ridho mengiklaskan jatah giliran, kami pada ‘Aisyah.”
Dan akhirnya Rasul ﷺ wafat dalam dekapan Aisyah,
”Ketika tiba hari-hariku dia diwafatkan oleh Allah kala sedang rebah diantara dada & leherku setelah itu dia dimakamkan di dalam rumahku.” (HR. Bukhari).
Tidak Sedikit hadist yg diriwayatkan oleh Aisyah. Aisyah Ra menempati posisi ke 4 dalam hal perawi hadist. Dirinya meriwayatkan hadist dari Rasulullah jumlahnya 2210 hadist dari jumlah tersebut 174 hadist Muttafakun Alaihi, 64 hadist diriwayatkan Bukhori & 68 Hadist diriwayakan Muslim.
“Apabila ada suatu permasalahan yg tak didapati di zaman sahabat, sehingga kami tanya pada Aisyah, & kami mendapati ilmu dari dia.” (Al-Hadits)
Itulah beberapa perempuan yg sempat mendampingi Rasulullah ﷺ semasa hidupnya. Mereka merupakan perempuan hebat & tangguh.
Banyak faktor yg mampu kita diteladani dari sosok perempuan tersebut, seperti Aminah ibunda Rasulullah yg sudah melahirkan tidak dengan didampingi seseorang suami. Itu adalah hal yg berat. Tetapi ia dapat melewatinya. Ini wujud ketegaran satu orang ibu. Atau ketaatan isteri Khajidah kepada suaminya. Sosok Perempuan yg teramat zuhud pun satu orang anak yg berbakti terhadap orang sepuh seperti Fatimah Az Zahra. Menjadi isteri yg cerdas & menyenangkan seperti Aisyah Ra.Kita tinggal pilih kita bakal menjadi perempuan seperti apa? Mereka adalah perempuan yg sanggup menjadi suri tauladan kita.
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik …” (Qs. An-Nahl: 97)
Perempuan mempunyai keistimewaan yg tidak dipunyai oleh kaum laki-laki. Keistimewaan itu yakni fitrah yg diberikan Allah ialah : haid, hamil, melahirkan & menyusui. Sehingga berbahagialah wahai perempuan sebab Allah sudah menciptakan kita ke bumi ini dgn keistimewaannya. Rasulullah ﷺ ketika periode hidupnya dikelilingi oleh wanita² hebat & tangguh. Bahkan dikala ajal menjemput rosulullah beliau bersama perempuan hebat & tangguh tersebut. Sebab sesungguhnya keberhasilan dakwah yg dilakukan Rasulullah ﷺ, ada peran perempuan pula didalamnya. Ada ungkapan yg menyampaikan,
“Di balik pria yg hebat, tentu ada perempuan yg hebat juga di belakangnya.”
Sayidina Umar ibn Khattab pun sempat menyampaikan,
“Laki-laki sukses itu dipandang dari dua perihal, yg pertama siapa ibunya & yg kedua siapa istrinya.”
Siapa saja perempuan hebat & tangguh yg dekat bersama Rasulullah ﷺ? Ada sekian nama perempuan yg setia dengan Rasulullah ﷺ di jalan dakwah diantaranya :
1. Aminah Binti Wahab Ibunda Rasulullah ﷺ
Dialah Aminah binti Wahab. Ibunda Rasulullah Muhammad ﷺ yg diutus Allah sbg rahmat semua alam. Layaklah baginya kemuliaan & kebanggaan yg tak akan dipungkiri, bahwa Allah Swt memilihnya sbg ibu seseorang Rasul mulia & nabi yg terakhir.seseorang perempuan berhati mulia juga sebagai pemimpin para ibu. seseorang ibu yg sudah menganugerahkan anak tunggal yg mulia pembawa risalah yg lurus & kekal. Rasul yg bijak pun pembawa hidayah.
2. Khadijah binti Khuwailid Isteri Pertama Rasulullah ﷺ
Beliau merupakan seorang janda & saudagar yg kaya raya. Beliau mempercayakan usahanya pada Rasulullah ﷺ. yakni Isteri pertama Rasulullah ﷺ. Perempuan mula-mula yg mengimani Rasulullah ﷺ dikala belum ada orang yg beriman. Satu Orang yg rela mengeluarkan semua hartanya demi menegakkan kalimat tauhid. Yg setia menemani Rasulullah diwaktu masa² susah dipermulaan dakwah. Jadi sahabat setia kala kesusahan menghampiri Rasulullah ﷺ. Dirinya pun pernah menyelimuti Rasulullah ﷺ kala Rasulullah gemetar & menggigil ketika menerima wahyu perdana yg turun melalui malaikat Jibril as. Beliau ialah Khadijah binti Khuwailid.
Khadijah binti Khuwailid, umahatul mukminin. Ibunda orang² yg beriman. Seseorang perempuan yg mempunyai ruangan special di hati Rasulullah ﷺ. Sampai² Aisyah Ra pernah cemburu padanya :
“Aku tak cemburu pada satu orang dari istri²-nya seperti saya cemburu pada Khadijah, biarpun saya tak mengenalnya. Tapi Nabi sering mengingatinya & kadang² beliau menyembelih kambing, memotong-motongnya & membagi-bagikannya pada sahabat ² Khadijah”.(HR. Al-Bukhari)
Dalam sebuah hadist Rasulullah ﷺ bersabda :
“Allah tak sempat memberiku pengganti yg lebih baik daripada Khadijah, dirinya yang beriman kepadaku saat seluruhnya ingkar. Dirinya pula yang memercayaiku disaat seluruh orang mendustakanku, beliau yg memberiku harta dikala seluruhnya orang malas memberikan & darinya Allah memberiku keturunan, sesuatu yang tak Beliau anugerahkan dari istri² ku yang lain.” (HR. Ahmad)
3. Fatimah Az-Zahra binti Muhammad ﷺ
Satu Orang putri yg lahir dari rahim perempuan paling baik yakni Khadijah ra. Satu Orang anak dari rasul Allah ialah Muhammad ﷺ. Sosok perempuan yg amat sangat zuhud dgn kenikmatan duniawi.
Dirinya pula yg menghibur Nabi diwaktu kehilangan Khadijah. Ibu dari Al-Mujtaba Hasan & asy -Syahid Husein. Dialah Fatimah Az-Zahra binti Muhammad ﷺ.
Sejak kecil dirinya turut merasakan beratnya dakwah ayahandanya Rasulullah ﷺ. Tangan kecilnya yg kecil rela membersihkan kotoran unta dari punggung Rasulullah sambil menangis. Kala muda Fatimah belia ikut merasakan kesusahan yg dialami kaum muslimin disaat pemboikotan kaum kafir. Beliau pula merasakan kekurangan makanan sehingga membuatnya sakit. Dirinya pula membersihkan darah yg mengucur dari kepala Rasulullah ﷺ kala terjadinya Perang Uhud.
Sayidina Ali bin Abi Thalib Ra, pemuda yg disebut Rasulullah “Engkau bagian dariku, & saya bagian darimu” yg menikahi Fatimah. Sayidina Ali ra menikahi Fatimah mas kawinnya cuma satu buah rompi perang. Namun dirinya terus ridho dgn kehidupannya. Terbiasa bekerja sendiri, menggiling tepung hingga telapak tangannya kapalan. Memanggul air sehingga berbekas di punggungnya, membersihkan rumah sampai pakaiannya penuh debu & menyalakan tungku hingga membuat pakaiannya penuh arang.
Sempat suatu hri dia datang kepada Rasulullah utk meminta satu orang pembantu, namun malah nasihat yg beliau temukan,
“Maukah saya ajarkan terhadap kalian yg lebih baik dari apa yg kalian minta tadi? Kalau hendak tidur, bacalah takbir 34 kali, tasbih 33 kali & tahmid 33 kali. Ini lebih baik dari satu orang pembantu”, ujar Rasulullah.
Fatimah pemimpin perempuan sedunia, menerima dgn lapang hati. Masihlah bersyukur pada Allah dgn kehidupannya yg teramat sederhana.
4. Aisyah binti Abu Bakar Siddiq Ra
Siapa yg tak kenal sosoknya? Dirinya salah satu istri kesayangan Rasulullah ﷺ. Satu perihal yg jadi kecintaan Rasulullah ﷺ ialah kecerdasan & keluasan wawasannya. Kecerdasan yg yg dimilikinya, akhirnya menjadikan dirinya sebagai rujukan bermacam ilmu. Salah satunya sbg perawi hadis. Dialah Aisyah Ra binti Abu Bakar Siddiq Ra.
Aisyah ialah sosok yg menyenangkan, lantaran kecerdasannya & kelincahannya. Beliau tidak jarang mendampingi Rasulullah dikala perang. Diwaktu Rasulullah ﷺ sakit sekembalinya dari haji Wada’ & merasa bahwa ajalnya telah dekat, ia dulu berkeliling pada istri-istrinya sama seperti biasa. Pada waktu membagi jatah giliran terhadap istri-istrinya itu ia senantiasa tanya :
“Di mana aku besok?”
“Di mana aku lusa?”
Ini mengisyaratkan bahwa dia mau langsung sampai kepada hri giliran Aisyah. Istri Nabi yg lain juga mampu mendalami hal tersebut & merelakan Nabi utk tinggal di tempat istri yg mana yg dia sukai selagi sakit, maka mereka semuanya bicara : ”Ya Rasulullah ﷺ, kami ridho mengiklaskan jatah giliran, kami pada ‘Aisyah.”
Dan akhirnya Rasul ﷺ wafat dalam dekapan Aisyah,
”Ketika tiba hari-hariku dia diwafatkan oleh Allah kala sedang rebah diantara dada & leherku setelah itu dia dimakamkan di dalam rumahku.” (HR. Bukhari).
Tidak Sedikit hadist yg diriwayatkan oleh Aisyah. Aisyah Ra menempati posisi ke 4 dalam hal perawi hadist. Dirinya meriwayatkan hadist dari Rasulullah jumlahnya 2210 hadist dari jumlah tersebut 174 hadist Muttafakun Alaihi, 64 hadist diriwayatkan Bukhori & 68 Hadist diriwayakan Muslim.
“Apabila ada suatu permasalahan yg tak didapati di zaman sahabat, sehingga kami tanya pada Aisyah, & kami mendapati ilmu dari dia.” (Al-Hadits)
Itulah beberapa perempuan yg sempat mendampingi Rasulullah ﷺ semasa hidupnya. Mereka merupakan perempuan hebat & tangguh.
Banyak faktor yg mampu kita diteladani dari sosok perempuan tersebut, seperti Aminah ibunda Rasulullah yg sudah melahirkan tidak dengan didampingi seseorang suami. Itu adalah hal yg berat. Tetapi ia dapat melewatinya. Ini wujud ketegaran satu orang ibu. Atau ketaatan isteri Khajidah kepada suaminya. Sosok Perempuan yg teramat zuhud pun satu orang anak yg berbakti terhadap orang sepuh seperti Fatimah Az Zahra. Menjadi isteri yg cerdas & menyenangkan seperti Aisyah Ra.Kita tinggal pilih kita bakal menjadi perempuan seperti apa? Mereka adalah perempuan yg sanggup menjadi suri tauladan kita.
KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN AISYAH RA
Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi. Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun. Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435). Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun. Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435). Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.
Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjaid pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau. Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))
Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.
KEDUDUKAN AISYAH DI SISI RASULULLAH
Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.” Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))
Mutiara Teladan
Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang telah dicontohkan Aisyah kepada kita di antaranya:
- Perlakuan baik seorang istri dapat membekas pada diri suami dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami yang akan selalu ia kenang hingga ajal menjemputnya.
- Hendaklah para wanita menjaga mahkota dan kesuciannya, karena kecantikan dan keelokan itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa ia jaga dan tidaklah boleh dia peruntukkan kecuali kepada yang berhak atasnya.
- Hendaklah para istri mereka belajar dan mencontoh keShalihan suaminya. Istri, pada hakikatnya adalah pemimpin yang di tangannya ada tanggung jawab besar tentang pendidikan anak dan akhlaknya, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Wallahu A’lam.
PUTERI NABI MUHAMMAD FATIMAH AZ-ZAHRA
Pada suatu hari di Madinah, ketika Nabi Muhammad berada di masjid sedang dikelilingi para sahabat, tiba-tiba anaknya tercinta Fatima, yang telah menikah dengan Ali--prajurit utma Islam yang terkenal--datang pada Nabi. Dia meminta dengan sangat kepada aya hnya untuk dapat meminjam seorang pelayan yang dapat membantunya dalam melaksanakan tugas pekerjaan rumah. Dengan tubuhnya yang ceking dan kesehatannya yang buruk, dia tidak dapat melaksanakan tugas menggiling jagung dan mengambil air dari sumur yang jau h letaknya, di samping juga harus merawat anak-anaknya.
Nabi tampak terharu mendengar permohonan si anak, tapi sementara itu juga Beliau menjadi agak gugup. Tetapi dengan menekan perasaan, Beliau berkata kepada sang anak dengan sinis, "Anakku tersayang, aku tak dapat meluangkan seorang pun di antara mereka ya ng terlibat dalam pengabdian 'Ashab-e Suffa. Sudah semestinya kau dapat menanggung segala hal yang berat di dunia ini, agar kau mendapat pahalanya di akhirat nanti." Anak itu mengundurkan diri dengan rasa yang amat puas karena jawaban Nabi, dan selanjutnya tidak pernah lagi mencari pelay an selama hidupnya.
Fatima Az-Zahra si cantik dilahirkan delapan tahun sebelum Hijrah di Mekkah dari Khadijah, istri Nabi yang pertama. Fatima ialah anak yang keempat, sedang yang lainnya: Zainab, Ruqaya, dan Ummi Kalsum.
Fatima dibesarkan di bawah asuhan ayahnya, guru dan dermawan yang terbesar bagi umat manusia. Tidak seperti anak-anak lainnya, Fatima mempunyai pembawaan yang tenang dan perangai yang agak melankolis. Badannya yang lemah, dan kesahatannya yang buruk men yebabkan ia terpisah dari kumpulan dan permainan anak-anak. Ajaran, bimbingan, dan aspirasi ayahnya yag agung itu membawanya menjadi wanita berbudi tinggi, ramah-tamah, simpatik, dan tahu mana yang benar.
Fatima, yang sangat mirip dengan ayahnya, baik roman muka maupun dalam hal kebiasaan yang saleh, adalah seorang anak perempuan yang paling diayang ayahnya dan sangat berbakti terhadap Nabi setelah ibunya meninggal dunia. Dengan demikian, dialan yang sang at besar jasanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya.
Pada beberapa kesempatan Nabi Muhammad SAW menunjukkan rasa sayang yang amat besar kepada Fatima. Suatu saat Beliau berkata, "O... Fatima, Allah tidak suka orang yang membuat kau tidak senang, dan Allah akan senang orang yang kau senangi."
Juga Nabi dikabarkan telah berucap: "Fatima itu anak saya, siapa yang membuatnya sedih, berarti membuat aku juga menjadi sedih, dan siapa yang menyenangkannya, berarti menyenangkan aku juga."
Aisyah, istri Nabi tercinta pernah berkata, "Saya tidak pernah berjumpa dengan sosok probadi yang lebih besar daripada Fatima, kecuali kepribadian ayahnya."
Atas suatu pertanyaan, Aisyah menjawab, "Fatima-lah yang paling disayang oleh Nabi."
Abu Bakar dan Umar keduanya berusaha agar dapat menikah denga Fatima, tapi Nabi diam saja. Ali yang telah dibesarkan oleh Nabi sendiri, seorang laki-laki yang padanya tergabung berbagai kebajikan yang langka, bersifat kesatria dan penuh keberanian, kesal ehan, dan kecerdasan, merasa ragu-ragu mencari jalan untuk dapat meminang Fatima. Karena dirinya begitu miskin. Tetapi akhirnya ia memberanikan diri meminang Fatima, dan langsung diterima oleh Nabi. Ali menjual kwiras (pelindung dada dari kulit) milikn ya yang bagus. Kwiras ini dimenangkannya pada waktu Perang Badar. Ia menerima 400 dirham sebagai hasil penjualan, dan dengan uang itu ia mempersiapkan upacara pernikahannya. Upacara yang amat sederhana. Agaknya, maksud utama yang mendasari perayaan it u dengan kesederhanaa, ialah untuk mencontohkan kepada para Musllim dan Musllimah perlunya merayakan pernikahan tapa jor-joran dan serba pamer.
fatima hampir berumur delapan belas tahun ketika menikah dengan Ali. Sebagai mahar dari ayahnya yang terkenal itu, ia memperoleh sebuah tempat air dari kulit, sebuah kendi dari tanah, sehelai tikar, dan sebuah batu gilingan jagung.
Kepada putrinya Nabi berkata, "Anakku, aku telah menikahkanmu dengan laki laki yang kepercayaannya lebih kuat dan lebih tinggi daripada yang lainnya, dan seorang yang menonjol dalam hal moral dan kebijaksanaan."
Kehidupan perkawinan Fatima berjalan lancar dalam bentuknya yang sangat sederhana, gigih, dan tidak mengenal lelah. Ali bekerja keras tiap hari untuk mendapatkan nafkah, sedangkan istrinya bersikap rajin, hemat, dan berbakti. Fatima di rumah melaksanak an tugas-tugas rumah tangga; seperti menggiling jagung dan mengambil air dari sumur. Pasangan suami-istri ini terkenal saleh dan dermawan. Mereka tidak pernah membiarkan pengemis melangkah pintunya tanpa memberikan apa saja yang mereka punyai, meskipun m ereka sendiri masih lapar.
Sifat penuh perikemanusiaan dan murah hati yang terlekat pada keluarga Nabi tidak banyak tandingannya. Di dalam catatan sejarah manusia, Fatima Zahra terkenal karena kemurahan hatinya.
Fatima telah menjadi simbol segala yang suci dalam diri wanita, dan pada konsepsi manusa yang paling mulia. Nabi sendiri menyatakan bahwa Fatima akan menjadi "Ratu segenap wanita yang berada di Surga."
KISAH CINTA PUTERI NABI "FATIMAH AZ-ZAHRA"
Inilah kisahcinta suci
antara Ali bin Abi thalib dan Fatimah Az-Zahra. Cinta sahabatAli bin Abi
Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta yangselalu terjaga
kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun expresi. Hinggaakhirnya Allah menyatukan
mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Konon karena saking
teramatrahasianya setan saja tidak tahu urusan cinta diantara
keduanya. Sudahlama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah
tertohok dua kalisaat Abu Bakar dan Ummar melamar fatimah. Sementara dirinya
belum siap untukmelakukannya.
Namun kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudahtidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak olehRasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannyayang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali.Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah,Fatimah berkata kepada Ali,
Namun kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudahtidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak olehRasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannyayang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah.
Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali.Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah,Fatimah berkata kepada Ali,
"Maafkan aku,
karena sebelummenikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta
kepada seorangpemuda dan aku ingin menikah dengannya",
Ali pun bertanya mengapa ia tak mahu menikahdengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.
Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, "Pemudaitu adalah dirimu".
Decetitakan, Ali Bin Abi talib waktu itu ingin melamar Fatimah, putri nabiMuhammad SAW. Tapi karena dia tidak mempunyai uang untuk membeli mahar, maka iamembatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang.Pada saat Ali sedang bekerja keras, ia mendengar khabar kalau Abu Bakarternyata melamar Fatimah. Wah, bagaimana agaknya perasaan Ali, wanita yangsudah dia inginkan dilamar oleh seseorang yang ilmu agama nya lebih hebat daridia. Tetapii Ali tetap bekerja dengan giat.
Lalu setelah beberapa lama Ali mendengar kabar kalau lamaran Abu Bakar kepadaFatimah ditolak. Ali terpegun dan sedikit bergembira tentunya, kata Ali “waah, saya masih punya kesempatan ”. Setelah mendengarkhabar itu, Ali bekerja lebih giat lagi agar cepat mengumpulkan uang dan segeramelamar Fatimah. Tapi tak lama setelah itu, Ali mendengar khabar kalau Umar BinKhatab melamar Fatimah. Wah, sekali lagi Ali mendahulukan orang lain, bagaimanaperasaanya? Tapi tak berapa lama Ali mendengar kalau lamaran Umar bin Khatabditolak. betapa senangnya Ali, mendengar kabar itu.
Tapi tak lama kesenangan itu kembali pudar Karena terdengar khabar lagi,ternyata Usman bin Affan melamar Fatimah. ini sudah yang ketiga kalinya, kataAli “mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usmantidak melamar Fatimah secepat ini, InsyaAllah tidak lama lagi saya akan melamarFatimah, tapi , apa hendak dikata , adakah mahu mengalah?".
Dan sekali lagi, tidak berapa lama dari itu, khabar ditolaknya lamaran Usmanbin Affan pun terdengar lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamarFatimah pun berkobar lagi, dan semangat itu didukung oleh sahabat-sahabat Ali.Kata sahabat nya “pergilah Ali, lamar Fatimahsekarang, tunggu apa lagi?? kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu jugasudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar. tunggu apa lagi???Tunggu yang ke4 kalinya??? baik cepat!!!”
Dengan segera Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad S.W.Tdengan tujuan melamar Fatimah, dan sahabat-sahabat tau??? LAMARANNYADITERIMA!!!
Oh rupanya : ternyata memang dari dulu Fatimah az-Zahra sudah mempunyaiperasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali,dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah az-Zahra,. Tapimereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saat nya tiba, sampaisaatnya ijab Kabul disahkan . Wah..wah.. mereka hebat yaaa (harus kita contohi,sahabat-sahabat ). Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali mendahulukanorang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga.
Yup, sekali lagi, kata-kata ini pasti akan muncul dalam benak sahabat-sahabat>>> “Jodoh memang tidak kemana”,daricerita itu, lebih memperjelas lagi kan bahwa “Cintaitu, mengambil kesempatan , atau mempersilakan yang lain”
Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang,namunbagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan Cinta yang mengendalikanDiri kita, Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta. Mungkin cukup sulitmenemukan teladan dalam hal tersebut disekitar kita saat ini. Walaupunbukan tidak ada.. barangkali, kita saja yang tidak mengetahuinya. Daninilah kisah dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah tentangmembingkai perasaan dan Bertanggung jawab akan perasaan tersebut “Bukan janj-janji”
Dan ’Ali punmenikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingindisumbangkan sahabat2nya tapi Nabi berkeras agar ia membayar bakinya, Ituhutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr,’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentlemansejati.,“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilahjalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengantanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untukmenanti. Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalahpengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurangjuga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayatdikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkatakepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu.Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapaengkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karenapemuda itu adalah Dirimu”
Dalam riwayat lain diceritakan seperti ini:
Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah,Fatimah berkata kepada Ali:
Fatimah : “Wahai suamiku Ali, aku telah halalbagimu, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan akusuami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu”.
Ali : “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang,aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lamakupendam telah menjadi halal dengan ikatansuci pernikahanku denganmu.”
Fatimah : (berkata dengan lembut) “Wahaisuamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalinkomunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tanggakita”.
Ali : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akanmendengarkanmu…”.
Fatimah : “Wahai Ali suamiku, maafkan aku,tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lamamengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku merasa pemudaitu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan akudenganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlasmelayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berduabersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah”
Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungibahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus darihati perempuan sholehah. Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketikamengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendamperasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimahmenikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah,Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbaktikepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas.
Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tibaAli pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa akusangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demiuntuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telahmenjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karenamengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang yang kucintaitersakiti, aku bisa merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karenakau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walupun aku tahu lambat laun pasti kau akansangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampaiakhirnya kau mencintaiku.”.
Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung,tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata, lalu dengan sangat tulus Aliberkata lagi, “Wahai Fatimah, aku sudahmenikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci.Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kaucintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi akutak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku tak ingin cintaku padamu hanyabertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku takingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela”.
Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangatkagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fatimah inginberkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “TapiFatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kaupendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagidarimu,namun izinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.”
Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasabahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah punberkata dengan tersedu-sedu,“Wahai Ali, demiAllah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karenaAllah."
Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol,Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali,Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah akumengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemudasebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisabercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kautahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah”.
Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesaldengan ulah Fatimah kepadanya ”Apa maksudmuwahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorangpemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingintertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah?, sudahlahtolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun diasudah menikah?”.
Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yangmesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja,“Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendamrasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku inginmengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugerah cintayang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cintaapalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemudengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapitahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuatmenangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya”
Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengannada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahusiapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, akusedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal akumemeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainyadan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangatmencintaiku…”
Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…???”
Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kaubenar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”.
Subhanallah, Betapa Indahnya Kisah Cinta antara Ali Bin Abi Thalib Dan FatimahAz-Zahra. Maha Suci Allah, Dialah yang mengatur segalanya. Dialah yang telahmengatur jodoh, rezeki, pertemuan, dan maut dari setiap insan di Dunia.
Ayahanda yang penyayang terus merenung puterinya dengan pandangan kasih sayang,"Puteriku, maukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apayang kau pinta itu?"
"Tentu sekali ya Rasulullah," jawab Siti Fatimah kegirangan.
"Jika kamu memelihara dirimu daripada sesuatu perkara yang haram keranaallah diatas wanita kesukaanmu kerana banyak bersabar , insyaAllah hanya denganizin Allah akan menghalalkannya kepada mu atas kesabaranmu kerana Allah"
***
Langganan:
Komentar (Atom)




